Alhamdulillah, hanya beberapa hari lagi umat Islam diseluruh dunia akan menyambut kedatangan tamu agung dari Allah s.w.t kepada umat Muhammad saw yaitu bulan Ramadan Al-Mubarak. Bulan yang penuh kerahmatan, keampunan dan pembebasan daripada api neraka.
Didalamnya ada puasa, salat tarawih, tadarus al-quran, sedekah, zakat dan lailatulqadr. Maha suci Allah yang memuliakan umat Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebaik- baik bulan, agar mereka dapat menggunakan kesempatan yang ada untuk mencari sebanyak-banyak bekal untuk dibawa bersama ke alam yang kekal abadi.
Almarhum Ustaz Mustafa Masyhur menggambarkan perjalanan orang-orang mukmin dalam bulan Ramadan itu seperti melalui sebuah taman yang dipenuhi segala keindahan yang menyejukkan mata memandang setelah melalui tanah gersang yang dipenuhi pelbagai fitnah. Alangkah seronoknya orang-orang yang beriman, menerima kedatangan bulan Ramadan untuk mereka menumpukan perhatian sepenuhnya kearah membersihkan jiwa mereka dari segala dosa dan noda, menggembalikannya semula kepada fitrah sekaligus mencapai derajat takwa yang dijanjikan buat mereka, subhanallah.
Justru apakah persediaan kita menjelang kedatangan tamu agung yang wajib kita layani ini. Sekiranya kita diberitahu kedatangan seorang ternama ke rumah kita, pastinya kita tidak akan senang duduk. Berpikir untuk mengemas dan menghias rumah sebaik mungkin. Jika perlu dicat, diganti perabot dan diperbaiki kerusakan yang ada, pasti kita akan lakukan. Hasrat kita adalah untuk melayani tamu tadi dengan sebaik mungkin, supaya tamu merasa betah berada di rumah kita. Itu belum lagi menyediakan makan minum yang enak-enak yang memancing selera.
Pokoknya tamu tadi akan merasakan kedatangnya benar-benar dihargai dan sangat dielu-elukan.
Nah, sekarang persoalannya bagaimana jika tamu tadi itu adalah Ramadhan Al-Mubarak, bagaimana persiapan kita? Adakah kita merasa tidak senang duduk dengan kehadirannya, tidak membuat sebarang persiapan untuk Ramadhan “bertamu” atau merasakan kehadirannya tidak penting. Kegembiraan seorang mukmin dalam menyambut kedatangan Ramadhan telah digambarkan oleh Baginda sallallahu alaihi wa sallam melalui sepotong doa yang artinya : Wahai Allah, Tuhan kami, berkatilah kami dalam bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan . Doa ini jelas memberi pemahaman bahwa Ramadhan itu adalah bulan yang amat dinanti-nantikan oleh baginda dan begitu jugalah orang- orang yang beriman yang menauladani Rasulullah sallllahu alaihi wa sallam.
Banyak dikalangan kita merasa sedih jika tidak ada persiapan untuk menyambut Idulfitri, tetapi banyak pula yang tidak sedih jika tidak ada persiapan untuk meyambut Ramadan. Bukan persiapan fisik yang diperlukan untuk menghadapi Ramadan, tetapi persiapan ruhaniah untuk menyambut Ramadan sebagai “tamu” agung dari Allah dengan penuh “kemesraan”dan kesyukuran. Oleh karena itu, ada beberapa persiapan yang wajar kita laksanakan sebelum melangkah masuk ke bulan Ramadhan Al-Mubarak dan antara yang perlu sebagaimana yang dinyatakan oleh Dr. Abdul Khaliq Al-Syarif (lihat http://www.Islamonline.net) ialah:

1. Bertobat kepada Allah daripada segala dosa yang kecil maupun besar dengan tujuan membersihkan diri dan hati untuk menempuh gerbang bulan ramadhan yang mulia dengan jiwa yang bersih dan suci.

2. Menjernihkan semula hubungan baik sesama manusia: kepada kedua orang tua, sanak saudara maupun sahabat handai khususnya sesama ikhwah.

3. Melatih diri dengan amal-amal kebaikan dibulan Syaban dengan memperbanyak
tilawah al-quran, qiyamullail dan puasa supaya dapat melaksanakan ibadah-ibadah tersebut dengan lebih sempurna pada bulan Ramadan.

Bahkan Rasulullah sallAllahu alaihi wa sallam juga banyak berpuasa dalam bulan Syaban sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadis sahih (lihat Riadh al-solihin/hadis: 1247).
4. Merujuk semula fiqh puasa, untuk mengingati semula kaedah puasa yang bertepatan dengan sunnah, berserta rukun dan syarat-syaratnya terutama yang berkaitan dengan adab-adab puasa yang sering diabaikan. Dalam hal ini para pembaca dapat merujuk kitab-kitab fiqh yang muktabar seperti Fiqh Mazhab Syafie (Al- Fiqh Al-Minhaji) yang sudah diterjemahkan.
Oleh karena itu, marilah bersama-sama mempersiapkan diri kita untuk menerima kunjungan Ramadhan dalam pesta ibadah yang menjanjikan ganjaran bonus berlipat kali ganda. Semoga Ramadan yang bakal kita lalui ini lebih baik dari yang pernah kita lalui. Disamping takwa sebagai sasaran, marilah kita bersama menginsafi diri kita dengan merenung kebesaran Allah diatas segala nikmatNya kepada kita disamping berniat dengan sepenuh hati untuk melakukan yang terbaik untuk Ramadan kali ini. Dengan harapan juga agar Ramadan kali ini tidak ”berkecil hati” menerima layanan kita. Wallahu alam.